Menguatkan Branding, Menjemput Kepercayaan Publik
Klaten - SMPN 6 Klaten kembali menunjukkan komitmen dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan dengan menyelenggarakan In House Training (IHT) bertema “Kemitraan dan Branding Sekolah”, Senin (tanggal menyesuaikan). Kegiatan strategis ini menghadirkan Drs. Eguh Setyo Surono, M.M, Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten, sekaligus mantan Kepala SMPN 6 Klaten, sebagai pembicara utama. IHT ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk memperkuat identitas sekolah dan membangun kepercayaan publik melalui kerja sama yang berkualitas.
Acara dibuka pukul 08.00 WIB oleh Kepala SMPN 6 Klaten, Yustina Nevi Kusharini, S.Kom, M.Pd. Dalam sambutannya, Nevi menegaskan bahwa branding sekolah kini menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pelengkap. Ia menekankan bahwa sekolah harus mampu tampil dengan karakter, keunggulan, dan ciri khas yang mudah dikenali masyarakat.
“Dengan membranding, maka membuat sekolah semakin memiliki nilai jual. Branding itu penting agar masyarakat mengetahui keunggulan dan identitas sekolah kita,” ujar Nevi di hadapan seluruh guru dan tenaga kependidikan. Ia juga menambahkan bahwa branding yang kuat akan membawa dampak besar bagi kepercayaan publik, sekaligus menjadi modal sosial bagi sekolah untuk melangkah lebih jauh.
Membangun Sekolah yang Dicita-Citakan
Memasuki sesi inti, Drs. Eguh Setyo Surono, M.M mengajak peserta untuk meninjau kembali esensi lembaga pendidikan yang dicita-citakan. Dengan pengalamannya memimpin SMPN 6 Klaten serta tugasnya sebagai pengawas, Eguh menyampaikan perspektif komprehensif tentang pentingnya membangun sekolah yang memiliki identitas kuat, budaya kerja positif, serta prestasi yang berkelanjutan.
“Branding itu berangkat dari budaya sekolah. Mulai dari profesionalitas guru, pelayanan yang ramah, lingkungan yang bersih, sampai karakter siswa. Semua itu adalah wajah sekolah,” ungkap Eguh. Menurutnya, branding bukan sekadar tampilan visual atau slogan manis; ia lahir dari perilaku dan kualitas layanan yang konsisten ditunjukkan setiap hari.
Eguh juga menyampaikan bahwa sekolah yang hebat tidak dibangun oleh satu atau dua individu, tetapi oleh seluruh ekosistemnya. Setiap guru, staf, hingga siswa memiliki peran penting dalam menciptakan citra positif.
Guru sebagai Duta Branding
Pada bagian berikutnya, Eguh menekankan bahwa guru memegang peran strategis sebagai duta branding sekolah. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi representasi kualitas sekolah di mata masyarakat. Satu tindakan positif dapat mengangkat nama sekolah, sementara satu kelalaian dapat merusaknya.
Ia mendorong guru untuk selalu memberikan pelayanan terbaik, membangun komunikasi yang efektif dengan siswa dan orang tua, serta bekerja secara profesional dan berintegritas.
“Branding bukan hanya soal poster dan media sosial, tetapi bagaimana kita bersikap setiap hari,” tegasnya.
Menurut Eguh, sekolah yang berhasil membangun branding biasanya memiliki guru yang kompak, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan. Mereka mampu menjadi teladan sekaligus inovator dalam pembelajaran.
Kemitraan sebagai Kekuatan
Materi berikutnya berfokus pada kemitraan sebagai salah satu pilar penting penguatan branding sekolah. Eguh menyampaikan bahwa sekolah tidak bisa berkembang jika berdiri sendiri. Sekolah harus membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat, komite sekolah, dunia usaha, dunia industri, media, komunitas pendidikan, hingga lembaga pemerintahan.
Melalui kemitraan, sekolah dapat memperluas jejaring, meningkatkan akses terhadap program dan peluang baru, serta memperkuat kepercayaan publik. Kemitraan juga membantu sekolah menyediakan pengalaman belajar yang lebih relevan dan kontekstual bagi siswa.
Ia mendorong SMPN 6 Klaten untuk terus mengembangkan program-program kolaboratif seperti proyek literasi, kegiatan sosial, pendampingan karier, dan publikasi positif melalui berbagai platform.
Antusias Guru Tinggi
Seluruh peserta tampak antusias mengikuti jalannya pelatihan. Diskusi berlangsung interaktif, terutama ketika Eguh mengajak peserta membahas tantangan-tantangan nyata sekolah dalam membangun branding yang kuat. Banyak guru merasa bahwa materi ini sangat relevan dengan kebutuhan sekolah saat ini, terutama dalam menghadapi persaingan antar lembaga pendidikan.
Langkah Nyata SMPN 6 Klaten
Menutup acara, Kepala Sekolah Yustina Nevi Kusharini menegaskan bahwa IHT ini bukan sekadar forum pelatihan, tetapi langkah awal menuju transformasi sekolah. Ia menyampaikan beberapa program lanjutan, seperti:
Penguatan budaya pelayanan ramah dan disiplin
Optimalisasi publikasi melalui media sosial dan website sekolah
Inovasi program unggulan berbasis kebutuhan siswa
Penguatan karakter dan prestasi siswa
Perluasan jejaring kemitraan strategis
Dengan semangat kolaboratif dan komitmen kuat seluruh warga sekolah, SMPN 6 Klaten optimistis dapat semakin dipercaya masyarakat dan memperkuat posisinya sebagai sekolah yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing
Moch. Shidiq
Komentar
Posting Komentar